Menonton Pementasan Panembahan Reso

26
Jan

Menonton Pementasan Panembahan Reso

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet berdecak kagum atas kekuatan permainan karakter Sha Ine Febriyanti sebagai Ratu Dara yang antagonis dan Whani Dharmawan sebagai Panembahan Reso yang licik serta dialog-dialog yang masih relevan dengan situasi kekinian.

“Menyaksikan Pementasan Kolosal ‘Panembahan Reso’ karya maestro WS Rendra bagaikan menyaksikan kembali drama kekuasaan yang penuh intrik, kekejaman dan ketamakan. Semuanya masih relevan kendati naskah itu dibuat Rendra 34 tahun lalu saat mengkritik Orde Baru,” tutur Bamsoet usai menyaksikan Pementasan Panembahan Reso tadi Sabtu malam (25/1) di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Bamsoet lalu terkenang kedekatannya dengan WS Rendra saat masih menjadi wartawan pemula di Harian Prioritas milik Surya Paloh atau Media Indonesia Group. “Saya mengenal Mas Willy atau WS Rendra sejak tahun 80an. Tidak saja melalui sajak-sajaknya tapi saya beruntung bisa mengenalnya langsung. Jauh sebelum saya menjadi wartawan dan Panembahan Reso di gelar tahun 86. Ketika itu saya masih mahasiswa dan merasa tertantang, mengapa WS Rendra dilarang tampil membaca sajak.” Kenang Bamsoet.

Akhirnya lanjut Bamsoet, kami nekad menampilkan si Burung Merak di acara Panggung Musik Mahasiswa Mapussy di Ancol tahun 85. Akibatnya, saya diperiksa dan di tahan oleh Laksus di Kramat V karena sajak-sajak yang di bacakan WS Rendra ketika itu mengkritik tajam rezim Orde Baru. “Rendra memang bukan penyair biasa. Ia bagaikan magnit dan selalu mempesona di atas panggung. Seperti burung Merak. Itu juga yang membuat pihak intelejen dan keamanan jaman itu was-was,” jelas Bamsoet.

Mantan Ketua DPR RI 2014-2019 ini menceritakan bahwa dirinya tahun 1986 setelah lulus kuliah dan menjadi wartawan ditugaskan untuk menulis tentang Bengkel Theater dan profil WS Rendra si Burung Merak sekaligus meliput pagelaran Panembahan Reso yang sangat spektakuker saat itu. Mulai dari persiapan hingga pementasan termasuk berbagai cerita di balik layar. “Begitulah perkenalan saya dengan Rendra yang terus berlanjut hingga pagelaran-pagelaran berikutnya bersama Kantata Taqwa dan lain-lain hingga Allah SWT memanggilnya lebih dahulu dari kami keharibaannya,” ujar Bamsoet.

Sekarang, setelah 34 tahun. Menurut Bamsoet, menyaksikan kembali pementasan Panembahan Reso bagaikan menyaksikan kembali drama kekuasaan dengan permainan atau intrik yang menyertainya. Kisah ini merupakan karya Rendra yang merefleksikan bagaimana di suatu pemerintahan, perebutan kekuasaan diraih dengan cara-cara licik dan penuh darah. Demi kekuasaan, apapun dikorbankan termasuk rakyat, keluarga dan sahabat.

Panembahan Reso sejatinya merupakan epos yang merefleksikan betapa hasrat membabi buta terhadap kekuasaan selalu menimbulkan aspek-aspek delusional seorang pemimpin dan pengikutnya. Sejumlah pengamat budaya mengatakan, Panembahan Reso mampu membedah secara dalam watak dan psikologi seorang pemimpin yang kehilangan kontrol terhadap akal sehat dan terseret ke ambisi ilusi-ilusi pribadi.

Apa yang menjadi substansi cerita dan semangat WS Rendra dalam karyanya ini penting di era sosial media dan perebutan kekuasaan era modern melalui pemilu yang baru saja usai. Pasalnya Rendra mencampur pamflet atau kritik dan sastra. Pada karya media sosial sekarang mayoritas hanya berupa pamflet, kata-kata dan maki-maki tanpa ruh kemanusiaan. Rendra memiliki kemampuan menggabungkan keduanya, mengkritisi tapi dengan keindahan sastra, yaitu keindahan kemanusiaan dan kemaestroan di dalam bahasa dan sastra.

Bamsoet mencoba mendiskripsikan alur cerita Pementasan 34 tahun lalu itu, apakah masih relevan dengan jaman kekinian? Jawabannya, ya!

“Didalam dialog-dialog diantara para aktor di atas panggung tadi malam, sentilan-sentilan Rendra sangat tajam dan saya nilai masih sangat relevan dengan situasi negara kita saat ini. “Salah satu dialognya, kenapa raja atau pemimpin diberi mahkota? Karena kebusukan kekuasaan akan tertutupi oleh mahkota. Oleh karena itu masyarakat harus membaca bahwa keindahan mahkota kekuasaan politik di era demokrasi modern saat ini apakah berhasil menutupi kebusukan kekuasaan atau tidak. Ini pertanyaan yang ada di dalam dialog di Panembahan Reso. Selain itu ada kalimat, kalau mencari pemimpin itu jangan berjudi dan hanya mampu berdalil dengan kata-kata bukan perbuatan. Atau kalimat ‘Tahta itu ternyata bukan kursi biasa’. Orang bisa berubah 180 derajat begitu menduduki tahta. Kalau tidak menjadi semakin arif, ya semakin gila, tamak dan sewenang-wenang,” ujar Bamsoet.

Rendra juga mengatakan lewat Panembahan Reso ini bahwa dalam memilih pemimpin harus yang punya kemampuan kenegaraan dan keikhlasan untuk rakyat. Jangan yang hanya pandai bergincu bermain pencitraan. (Bamsoet)

Leave a Reply